PENCAPAIAN SETELAH KULIAH

Sebenernya ini adalah tugas dari seorang dosen yang jadwal kuliahnya malesin banget karena sore :))
FYI, aku masuk kelas pagi karena gak mau kuliah sore. Terus kenapa jadwal dia jam 4.20 :)

Langsung aja berikut isi dari jawaban pertanyaannya yang mana sesuai dengan judul tulisan kali ini, eh kok gue ngetik kek gak nyambung sih, apakah ini efek dari kondisi gue yang hare'eng berkat kemaren acara nginep-nginepan :')
Terus nih ya cuma disediain lahan 2 lembar dengan font times new roman ukuran 12, kurang banget gak sih? Taunya gue doang yang berpikiran kurang, temen-temen kelas malah bilang bingung mau ngetik apa :(( yaudah nih deh baca, perjuangan gue ngurang-ngurangin hasil ketikan.

Pertanyaan:
Apa yang akan kamu lakukan setelah lulus kuliah?

Saya akan menjawab,

Hal pertama yang akan saya lakukan setelah resmi menjadi sarjana, tentu saja mengambil foto dengan teman-teman saya. Tapi hanya jika ada yang ingin foto bersama saja, kalau tidak ada sepertinya saya hanya akan mengambil gambar diri saya sendiri selepas ke luar dari ruang sidang. Mungkin minta tolong pada orang lain, mungkin juga hanya selfie.

Tapi mungkin bukan itu yang menjadi pertanyaan Pak Yoyo, melainkan semacam hal apa yang akan saya lakukan atau capai. Tentu saja bekerja, itu pada umumnya. Secara garis besar, hal yang ingin saya capai selepas mengemban pendidikan dan meraih gelar sarjana Sains Komunikasi di Universitas Djuanda Bogor adalah pergi dari Indonesia dan melanjutkan hidup di Negara bagian Eropa. Namun saya paham betul hal seperti itu tidaklah mudah, sebab saya bukan manusia yang terlahir dari keluarga Sultan, yang hakikatnya enggak dicaripun uang bisa datang dengan lancar bahkan hanya dengan duduk memangku dagu, lantas bisa ke luar masuk Negara orang dengan lancarnya bak ingus dedek bayi yang belum bisa ngingsreuk, lalu hidup bahagia selamanya. Tamat.

Enggak deh. Bagi manusia biasa macam saya, hal seperti itu nampaknya hanya dapat saya temukan dalam khayalan disengaja, bahkan kebawa mimpi saat tidurpun enggak. Hingga beberapa waktu yang lalu, sebelum tugas ini saya dapatkan, saya mendapati sebuah augerah berupa ide yang menurut saya cukup cemerlang. Aha! Saya bilang. Saya rasa, akan cukup efektif dan memungkinkan apabila saya rela menunggu sekiranya 3-5 tahun selepas lulus kuliah untuk migrasi ke Eropa. Walau tidak sebentar, tapi saya rasa saya akan cukup mampu menunggu hingga saya sekiranya mendapatkan modal Rp.300.000.000 untuk hidup di sana.

Namun tentu saja penantian saya selama 3-5 tahun tersebut tidak saya lakukan dengan hanya duduk memangku dagu, lebih dari itu, saya harus bekerja keras!

Bagaimana? Saya terus memikirkan kata itu, “bagaimana”. Sebab ketika saya mulai browsing di internet, mencari tahu harga tiket pesawat dari Jakarta menuju Amsterdam, atau menuju Cordova, semurah-murahnya adalah Rp.11.000.000 hingga Rp.15.000.000. Tidak sampai di situ, saya juga mencari tahu harga sewa apartemen yang biasa digunakan untuk hidup sendiri dari blog seorang pengalam, per bulan bisa senilai 1.500 euro atau sekitar 24.000.000 rupiah. Ya, setelah saya cari tahu juga 1 euro senilai 16.000 rupiah, entah bagaimana bisa lebih tinggi dari dollar Amerika. Lalu saya mencari tahu biaya hidupnya mulai dari makan, ongkos kendaraan umum, hingga kuota internet. Bila dijumlahkan secara hemat dapat mencapai Rp.13.000.000 per bulan. Maka kurang lebih untuk modal awal biaya pindahan saja saya butuh sekiranya 50 juta rupia. Ah, capek juga dari tadi terus mengetikkan angka 0.

Berpikir sedikit lebih dekat, pada apa yang harus saya hadapi terlebih dahulu sebelum migrasi, 300 juta masih harus saya kumpulkan.

Rencananya, sebagai persiapan tinggal di Negeri orang, saya ingin mengalami masa hidup di Ibu Kota terlebih dahulu. Lantas saya memutuskan untuk mencari pekerjaan (tentu saja di bidang jurnalistik atau broadcast) di Jakarta tahun 2020 nanti, dengan Upah Minimum Regional yang saya harapkan dapat mencapai 4 juta setiap bulannya, dipangkas biaya hidup mulai dari mengurus tubuh dan tempat tinggal, apakah saya mampu menyisihkan setengahnya sebagai tabungan? Itu pertanyaan besar. Terlebih, setelah saya perhitungkan, dalam 5 tahun yang sepertinya amat lama itu, apabila setiap bulannya saya berhasil menyisihkan 2 juta, saya hanya akan menghasilkan 120 juta. Sangat masih jauh menuju target. Lalu saya berpikir apakah bisa setiap bulannya saya menyimpan uang senilai 4 juta? Jika mampu, maka saya akan berhasil mengumpulkan 144 juta dalam kurun waktu 3 tahun. Tentu saja masih jauh apabila ingin mengejar angka 300, terkecuali apabila saya mampu, secara rutin selama 60 bulan atau 5 tahun menyisihkan 4 juta setiap bulannya, saya bisa mendapatkan sekiranya 244 juta. Saya merasa luar biasa andai hal itu dapat terjadi. Namun kemudian saya memikirkan hal lain, pekerjaan sambilan.

Menulis adalah sebagian dari hidup saya, disamping mengkhayal, ilusi yang digambarkan melalui kata dapat terasa begitu nyata. Saya khatam betul, semua orang tentu dapat menulis. Tapi saya punya satu impian, yakni mendapatkan upah dari apa yang saya tulis. Meski begitu sebenarnya saya kurang berani mempublish tulisan saya. Bermain di platform Youtube dan Blogspot apabila kurang rajin, maka Adsence pun tak menjamin akan menaruh simpati, apalagi empati. Terlebih lagi tidak semua orang dapat beruntung mendapatkan pengunjung di dua platform tersebut.

Namun seorang dosen memberi motivasi kepada otak saya, untuk menerbitkan sebuah buku. Saya rasa itu sulit, tapi kata-kata beliau begitu terdengar menyenangkan. Saat saya berkata saya begitu jarang mengakhiri tulisan panjang, ia menyarankan agar saya hanya menulis apa yang sedang saya rasakan. Jika malas, maka saya cukup menulis saya sedang malas. Sangat inspiratif terhadap pemalas penuh mimpi, bukan?

Tapi saya menanggapinya dengan positif, saya harap awal tahun depan saya dapat mengawali peruntungan yang seperti itu. Hingga berkepanjangan, saya dapat menghasilkan uang dari hal tersebut dan juga pekerjaan tetap saya di masa yang akan datang yakni masa selepas lulus kuliah, alias jadi karyawan. Lalu saya dapat menggapai mimpi saya, pergi ke luar Negeri entah itu Spanyol atau Belanda, yang penting, saya akan terus menulis.

Satu catatan akhir, saya tidak pernah percaya diri untuk berpikir tentang pernikahan.

-----

Gitu deh, gak banget kan masa depan gue.

Comments

Popular Posts