KEDUDUKAN GENDER DALAM PERTEMANAN? FRIENDZONE? (QnA Sesi 2)
Beberapa mungkin marah karena pertanyaannya nggak gue jawab di postingan sebelah, but slow guys, aku nggak sejahat itu sampai hanya menjawab pertanyaan yang aku mau aja. Aku senang segelintirpun orang ada yang mau nanya sama aku, dan di sini aku menjawabnya.
Baiklah, kita habiskan pertanyaan kalian semua yang emang sih nggak sebanyak pertanyaan warganet or fans terhadap seorang Youtuber or Selebgram. Gue seleb Whatsapp.
Gue adalah seleb Whatsapp yang nggak cerdas, cenderung bodoh di pelajaran dan cuma beruntung doang sampe bisa naik kelas.
Buktinya, seorang cewek bernama Dewi bertanya saat QnA berlangsung:
"Negara di ASEAN yg wilayah nya luas apa?"
Gue hanya menjawab "Google.com" baik gak sih gue? Ngasih link terlengkap seantero jagat Internet, tapi karena gua baiknya kebangetan, so gue bakal cari tau buat lo nih Dew, biar sia sujud ke aing besok-besok kalo ketemu.
*selang 40 detik*
Kayaknya si Dewi gak bener-bener nanya deh, apa dia cuma nyoba ngasih gue soal UTS anak SD? Soalnya dia lagi magang di SD, karena dia mahasiswa PGSD. Abis jawabannya,,,,, Indonesia.
:)
:))
:)))
Berikutnya dari orang yang gue temui di sebuah chat group yang isinya bahas tentang K-Pop, namanya Ferdi, dan dia adalah siswa SMA semester akhir. Agak mirip si Cholis, tapi pasti nggak semua dari kalian kenal si Cholis.
"Kk aku mau nanya"gimana sih kalo kita itu suka ama temen kita sendiri?"
dan apakah itu termasuk friendzone?"
dan apakah itu termasuk friendzone?"
Asik, bukan?
Lebih baik daripada pertanyaan si Dewi, serupa postingan sebelumnya, gue berasa konsultan. Kok, Sultan? Aha.
Gue pribadi nggak pernah yang namanya suka sama temen sendiri, alias temen sepermainan, maupun orang yang gue kenal. Seumur dunia, gue selalu naksir orang-orang yang gak gue kenal sebelumnya. Belum ke taraf pertemanan, gue naksir dia. Belum ke taraf pendekatan, gue udah lupa kalo gue pernah naksir dia. Gitu dan gitu terus. Tapi, tanpa mengabdi pada kisah fiksi dalam novel penulis-penulis terkenal, gue bisa tahu apa yang harus lo lakukan jika sedang dalam keadaan seperti itu.
Tapi pertama gue mau bahas bahwa seperti yang kita tahu, friendzone artinya zona teman, kata tersebut jelas diartikan sebagai keadaan di mana kamu menyukai seseorang tapi kamu terjebak dalam keadaan dia lebih nyaman kepadamu sebagai seorang teman, hingga kamu tidak bisa menyatakan atau jujur terkait perasaanmu untuk bisa bersamanya lebih dari sekadar teman
Itu pemahaman gue. Maka pertanyaan gimana sih kalo kita suka sama temen sendiri jelas itu nggak masuk ke friendzone tadi, karena lo cuma suka. Nggak ada iktikad memiliki, dan ketika lo cukup dengan menyukai dia saja maka kamu nggak terjebak fase stuck in friendship. Kecuali!
Kecuali kalau kamu suka dan menaruh harapan seperti yang aku jelaskan di atas, maka kamu tentu saja terjebak zona pertemanan. Tapi terkait gimana, ya nggak gimana-gimana. Toh suka adalah hak segala bangsa, kecuali lo nanya gue apa yang harus lo lakuin. Maka gue akan jawab, cari tahu lebih dalam dan gunakan waktu sebaik mungkin.
Cari tahu lebih dalam? Jika dia emang bener-bener sahabat lo, tentu lo akan selalu tau dia lagi suka sama siapa atau dia lagi deket ama siapa. Setelah tau, misalnya lo emang pengen pacaran ama dia dan dia lagi nggak deket ama siapa-siapa. Gue saranin, jauhkan pikiran bahwa dia juga naksir gue di otak lo, atau pikiran kotor menyatakan cinta secepatnya yang penting dia tau lo suka sama dia, terkait perasaannya ke elo itu gimana ntar. Oh no! Jangan pernah memikirkan dan melakukan itu, please, nurut sama gue. Sekali lagi, jangan suka nganut kisah di novel, gue mohon. Terus kok tadi kata lo gunakan waktu sebaik mungkin?
Waktu di sini, lo harus tau timing yang tepat. Bukan berarti lo harus buru-buru.
Mungkin kalian pernah denger, bahwa kalo lo lagi kejebak friendzone, menyatakan perasaan cuma bakal bikin doi menjauh. Itu benar, itu nyata, gue udah pernah melihat kasus seperti itu, dan bukan satu, tapi beberapa. Dan apakah ada kasus di mana friendzone berbuah kebahagiaan berupa hubungan percintaan? Ada! Tuh, Ditto sama Ayu. Tapi tentu saja kita nggak bisa memukul rata sesuatu. Jelas.
Golongan tuh cuma ada di dalam konteks darah, sisanya, nggak ada. Peruntungan dan takdir yang bicara, kita nggak bisa bilang bahwa temen lo itu naksir lo juga ngeliat dari dia yang sering nanya lo kapan punya niat pacaran atau kita gak bisa bilang hubungan kalian bakal kandas dengan lo menyatakan perasaan padanya cuma karena lo liat dia begitu menyayangi lo sebagai seorang sahabat. Kembali lagi, tahan perasaan lo, cari tau sebanyak-banyaknya, jangan terburu-buru, dan cari waktu yang tepat untuk apakah lo utarakan, atau lo diamkan hingga lenyap.
Kuncinya adalah kuat.
Kuncinya adalah kuat.
Tapi,
"Menurut lu apa beda nya temenan sama cewek dan cowok, enakan yg mana dan lu lebih prefer kemana?" Itu kata @kalart_
Gue pribadi adalah sosok yang berteman ama siapa aja, nongkrong ama siapa aja, dan kembali ke mana saja. Semasa sekolah temen gue cewek semua, maksudnya, temen cerita, walau gue nggak terlalu suka cerita yang khusus sih, gue selalu cerita ke siapa aja. Temen pertama gue sebenernya cowok, namanya Candra, terus Arul. Dua-duanya adalah temen sepermainan bocah goblok yang gak tau aturan, cuma tau kita harus main diem-diem nggak boleh ketauan Nyokap Arul dan Bokapnya Candra, karena mereka nggak akur.
Masuk SD gue mulai kenal yang namanya pertemanan, entah karena apa gue jadi kenal juga hingga bisa main sama anak-anak cewek yang rumahnya sekampung ama gue, terus dapet temen di pengajian, sampe akhirnya sekarang kefamousan gue tiada tara.
Kalo katanya cewek tuh lebih seneng temenan sama cowok karena cowok tuh gak ember, perhatian, dan setia, percayalah itu hanya kepercayaan kaum perempuan baper. Dia terjebak friendzone yang tidak ia akui.
Tapi kembali, kita emang gak bisa mukul rata hal itu, tapi keyakinan gue tetap begitu. Namun lebih nyaman temenan sama cewek atau cowok, kalo buat gue pribadi sih kedua gender itu nggak ada bedanya. Temen ya temen, cerita ke cewek hanya untuk nanya yang sekiranya cewek bisa jawab, begitupun ke cowok. Itu kalau gue.
Mungkin beda dengan kalian yang udah punya langganan sahabat tempat bercerita dan minta saran, we absolutely different. Tambah lagi, gue yakin nggak mungkin seorang insan cuma punya satu temen, gak tau deh ya kalo sahabat. Mungkin di sini, enaknya temenan sama cewek tuh kita bisa nongkrong, tidur, ampe mandi pun bareng nggak ada larangan. Beda lagi ama cowok, batas kita sama kaum itu banyak, cuy.
Tapiiiii, kalo menurut segelintir orang (yang gak berjilbab) dan asique main ama --sori, bencong. Katanya, temenan ama cowok berjenis 'bencong' tuh asik, karena mereka nggak punya nafsu ke cewek, jadi bisa buka-bukaan sebuka-bukanya. Gue pribadi sih nggak setuju, sebab bencong tetaplah memiliki gen laki-laki. Termasuk Gen Halilintar, apasi.
So menurut gue, cewek ya temenannya sama cewek, terkhusus buat muslimah ya jelas hal itu menjauhkan dirimu dari pradosa. Tapi, untuk membuka lapangan hidup yang lebih indah macam gue, bertemanlah dengan siapa saja. Tapi jangan lupa untuk punya tempat kembali, dan untuk hal tersebut hanya lo yang bisa menyimpulkan. Entah pacar, entah sahabat segender, entah sahabat sefriendzone, ataupun teman bahagia, komitmenan misalnya (duh yang ini gue pengen ketawa banget).
Sebagai umat yang nggak terlalu deket sama keluarga, gue mendukung gerakan hidup seliar mungkin. Itu aja sih.
Sebenernya masih ada pertanyaan lain, terkait percintaan. Gue akan bahas di postingan setelah ini.
Selamat malam!
Bye!
Comments
Post a Comment