Umur Cuma Angka?

Memangnya benar ya, kalau umur itu cuma angka?
Kayaknya, UMR deh yang angka.

Halo!

Selamat pagi, saat aku menulis ini. Selamat siang, sore, malam, atau selamat-selamat lainnya pada kondisi kamu membaca tulisan ini. Sehat selalu ya, umur panjang perlu usaha untuk digapai. Dengan cara serupa bangun pagi, sikat gigi, mengurangi makanan manis, mengonsumsi pangan bergizi, dan menghargai diri sendiri. 

Tapi hidup harus dinikmati, ya? Kalau begitu, biarkan semua diatur takdir, tapi tetap dengan upaya terbaik. Biarkan jiwamu muda walau direnggut tahun ke tahun, soalnya kan umur cuma angka, fisik yang bicara. Plus omongan tetangga.

Jika kamu ingat sebelumnya aku pernah cerita, ada sesi di mana aku berkata bahwa segelintir orang punya patokan usia terhadap sesuatu hal yang harus dilakukan. Dalam hal ini, aku jadi ingat percakapanku dengan dua rekan kantor tempo hari. Yang Satu bertanya pada si Dua, "Kamu tertarik untuk lanjut S2?" yang dijawab Dua: "Tidak, umurku sudah tua."

Sebenarnya alasan seperti itu harusnya tidak ada, semua tergantung pada apa yang memang kita pilih. Jika dilihat dari usia Dua yang masih di angka 27, menurutku masih di usia baik-baik saja untuk menikmati gelar Sarjana dan melanjutkan jenjang pendidikan berikutnya bahkan di 3, 5, ataupun 8 hingga 10 tahun setelahnya. Tapi mungkin jika dilihat dari sudut pandang bahwa dia lulus S1 di usia 26 tahun, memiliki kekasih yang sudah siap untuk menikah, dan keinginannya yang juga mungkin menikah tidak jauh dari usia yang sekarang. Membuat dia jadi punya pemikiran, bahwa keuangan yang saat ini sedang diupayakan, tidak berhak untuk dia jadikan biaya pendidikan lanjutan, ataupun ia enggan menghabiskan waktunya untuk hal serupa pendidikan bahkan dengan beasiswa sekalipun. Mungkin dia punya mimpi lain, bersama dengan pasangannya, melakukan hal-hal yang dia damba, ataupun cita-cita pada hal yang disukainya. Semua orang punya alasan. Lagipula, pendidikan yang terlalu tinggi tidak didambakan semua insan. Dan di samping umur yang cuma angka, umur juga enggak ada yang tahu, kan?

Lalu aku juga bertanya, apakah kalian punya perusahaan impian?

Terkadang bagiku, mimpi bagaikan sebatas angan-angan. Seperti hanya sebuah rencana dan harapan yang tidak mungkin tercapai, sehingga membuatku terdorong untuk berpikir bahwa aku tidak layak untuk bermimpi. Padahal, si Satu bilang "Semua orang berhak punya mimpi", tapi itu tidak mengetuk hatiku untuk bermimpi. Atau mungkin, egoku yang terlalu tinggi sehingga tidak tertarik untuk mendewakan ketidakmungkinan, lebih baik berkhayal. Padahal kalau kata orang bijak, tidak ada yang tak mungkin.

Bahkan aku tak tahu seberapa besar aku percaya pada takdir, atau sebenarnya itu hanya buah dari upaya yang aku usahakan? Jika upayaku tidak berhasil, maka hasilnya akan tidak terlalu baik, dan jika upayaku berhasil maka sebaliknya, apakah hasil dari upaya tersebut itu yang biasa orang sebut sebagai takdir? Atau hanya nasib? Apa perbedaannya?

Katanya, contoh takdir adalah jodoh, rezeki, kelahiran, dan kematian. Maka kenapa masih banyak orang yang menenangkan dirinya dengan kalimat "Namanya juga takdir" ketika tidak mendapatkan apa yang mereka damabakan padahal sudah dipenuhi upaya maksimal? Padahal, kalau sudah berusaha, di luar konteks yang masuk pada komponen takdir, harusnya itu termasuk pada nasib kan? Yang semestinya masih bisa kita kendalikan. Adapun menurutku, yang menjadi takdir adalah hasil akhirnya, sedangkan kita belum tahu di mana letak 'akhir' itu sendiri, jadi tidak ada salahnya untuk mengupayakan nasib baik. 

Rasanya aku yang harus mendengarkan kalimatku sendiri ini.. Hei, Rain.. Jangan berhenti bermimpi. Nasib baik masih bisa kau upayakan.

Namun mari lanjutkan pembicaraan mengenai takdir. Seperti halnya berpasangan, sebelum sampai di titik pernikahan, seringkali manusia bertemu dengan orang yang ia jadikan dampingan namun pada akhirnya harus berhenti di tengah jalan, bahkan hingga telah melantunkan akad pernikahan, dan ternyata belum jodohnya, tetap mengharuskan jalannya diakhiri perpisahan. Kendati kematian sebagai takdir lain yang memisahkan, tapi keinginan mereka sendiri sebagai jalan pintas jelek yang dipilih. Maka di mana takdir itu bisa dipatokkan? Kenapa harus menyerah pada dalih "Bukan takdirnya" ketika upaya tidak berbuah keinginan awal? Pada seluruh konteks kehidupan, takdir itu, apakah bisa dikendalikan? Atau, malah tidak ada?

Perbincangan dengan beberapa orang teman tidak membuahkan 100% jawaban, tapi juga membuatku lebih terbuka pada kekuatan untuk berusaha lebih maksimal. Dalam konteks jodoh, seorang rekan berkata, takdir dalam jodoh bisa saja berakhir di tengah perjalanan, dikatakan begitu apalagi ketika keduanya sudah memiliki momongan. Karena kelahiran merupakan contoh takdir yang lain, dan takdir cinta kedua orang tua yang terhenti karena bercerai bukanlah kesalahan atau dosa yang perlu ditanggung si anak, point-nya, takdir mereka memang tidak sampai akhir.

Pernyataan tersebut tentu saja memberikan pertanyaan lanjutan, lalu takdir nama pasangan yang dalam agama Islam sudah dituliskan itu, yang tertulis nama yang mana? Terlebih kalau setelahnya menikah lagi, belum juga jika membahas soal jodoh kekal di akhirat. Lalu, yang manakah takdir yang sebenarnya jika manusia yang menjadi perjalanan dalam takdirnya itu berubah-ubah?

Seorang teman lainnya juga beropini bahwa jodoh itu bisa diatur, di luar validitas seseorang sebagai jodoh kita atau bukan, ketika pertandanya begitu banyak namun kita begitu tak ingin, kita bisa saja mengupayakan seseorang lain yang kita ingin dan mengadu-pinta kepada Tuhan.

Maka, takdir itu apakah tidak ada? Jika bisa dikendalikan, lalu untuk apa berserah diri kepada takdir?

Sebagian orang yang sudah hidup terlalu pasrah, atau tidak punya semangat di tengah perjalanan hidupnya, atau yang memang sudah legowo dari sananya. Kerap kali berserah diri kepada takdir Tuhan. Jika ternyata hasil yang didapatkan bukanlah takdir, melainkan buah dari usahanya yang, atau doa, yang cukup, maka, di mana letak takdir? Maksudku, semua ada prosesnya, kan?

Umur cuma angka, jika rata-rata usia manusia adalah 70 tahun, dan pemikiran-pemikiran dewasa ataupun perubahan muncul di kisaran usia 25 tahun. Lebih dari setengah perjalanan hidup di dunia beberapa orang didedikasikan untuk berserah diri kepada takdir --tanpa upaya. Bahkan menyerah. Tapi masih berlanjut, apakah itu yang disebut sebagai takdir? Atau mungkin hanya kesempatan?

Kenapa tidak hidup lebih berselera dan dengan keyakinan diri bahwa usaha tidak akan menghianati hasil? Atau juga pandangan bahwa usaha membuatmu jadi lebih mengenal hidup, juga dirimu?

Upaya dan keyakinan memang bukan patokan masa depan akan sangat indah dan menenangkan, namun setidaknya perjalanan hidup terasa lebih menyenangkan. Dengan adanya jatuh-bangun-bangkit-melanjutkan, jauh lebih baik daripada diam diri menikmati entah apa.



Semua orang itu, 
Belajar setiap waktu
Menggapai mimpinya

Sedangkan kamu,
Sibuk termenung
Merutuki nasib
Menikmati yang tak nikmat

Comments

Popular Posts