Waktu

Dari semua komponen kehidupan, waktu adalah hal yang paling sulit untuk makhluk dunia ini hindari.

Hingga detik ini, belum ada alat atau kenyataan yang nyata terkait komponen pengelabuan waktu. Waktu gak bisa kita rakit sendiri, dibohongin, ataupun ditutup-tutupi. Waktu tetap berjalan dengan teguh pendirian tanpa takut dihujat, lagipula waktu nggak punya Instagram, jadi dia bebas.

Tapi bukan karena semena-mena, waktu terus berjalan karena memang sudah semestinya. Seperti paru-paru, darah, dan semua komponen lainnya yang ada dalam tubuh manusia dan makhluk apapun. Mereka berjalan seiring dengan waktu yang berlalu, namun pengecualian ketika ia mengalami kelambatan, berhenti sebentar, hingga tidak berfungsi lagi, itu semua nyata. Mereka terjadi, makanya di dunia ini ada yang namanya Hospital.

Dunia ini gak lepas dari kurun waktu, kalau bisa lepas sebentar, mungkin luar biasa seperti di film-film. Atau andai bisa diputar ulang, pasti nggak akan ada kata 'Sesal' di KBBI. Semuanya serba terencana, Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu tanpa adanya tujuan. Penyesalan itu perlu, agar makhluknya nggak berbuat sesuatu tanpa perhitungan, agar tidak adanya kecemburuan, supaya nggak perlu kamu-kamu berlaku seenaknya. Seenaknya kamu belum tentu membuat orang lain enak juga.

Tapi ironisnya, kegiatan 'seenaknya' tetap dilakukan sekalipun dia tau nggak akan bisa memutar ulang keadaan. Semacam merasa bisa memperbaiki lagi, atau seolah tidak peduli akan apa yang hendak terjadi. Semena-mena jadi kegiatan rutin beberapa umat Bumi, it's like they never care about the other, they just care about them self. Egois.

Di bangku perkuliahan sendiri, gue diajarkan untuk mengikis ego. Sedikit lebih baik, memajukan terlebih dahulu kepentingan orang banyak ketimbang diri sendiri. Dan pada sebuah buku karangan Jessica Hagy, gue juga diarahkan untuk memulai segalanya terlebih dahulu agar dapat melaluinya dengan mudah. Dimulai dari gue, maka semuanya akan jadi lebih baik. Lalu dipadupadankan, gue mengawali kegiatan mengedepankan kehidupan khalayak. Lalu siapa yang mengedepankan keperluan gue? Khalayak yang melakukan hal serupa. Intinya, hidup bersosial. Bangsat.

Karena pada kenyataannya, walau banyak sekali asupan bergizi yang dapat membuat gue menjadi manusia yang lebih baik. Hal paling sulit dari belajar kebaikan adalah, tidak mampu merealisasikannya.

Gue masih sangat bisa dikatakan egois, hidup hanya untuk diri sendiri, tidak peduli perasaan orang lain, dan minder. Maka hal tersebut membuat dosen di kampus dan Jessica Hagy harusnya merasa gagal andai mereka tau apa yang mereka ajarkan hanya meresap dalam otak gue, tapi gak nyentuh hati sama sekali. Kamu tau? Terkadang perasaan jauh lebih jahat daripada logika.

Maka target dari tulisan kali ini adalah, gunakan waktu dengan sesukamu mungkin. Karena duka bisa datang kapan saja, kamu nggak perlu prepare, yang penting jatah bahagiamu selalu penuh.

Bye!

Comments