NULIS ITU GAK PENTING!?
Apa sih menulis itu?
Apakah menulis itu penting?
Jaman sekarang, segala hal serba canggih. Bidang komunikasi visual lebih digemari, apakah itu menyebabkan nasib penulis jadi terancam?
Novel saja dibuat film, contohnya film Dear Nathan dari novel fiksi jebolan Wattpad karya Erisca Febriani. Penonton Dear Nathan belum tentu pernah membaca novel cetaknya, apalagi baca di Wattpad. Mereka membuat cerita di novel menjadi film bukan semata-mata karena ceritanya keren, tapi karena hasil penjualan di film jauh lebih besar daripada penjualan buku. Dan hal itu jadi daya tarik utama, seperti contoh lain film dari seri Dilan-Milea, lebih meriah di XXI ketimbang Gramedia.
Oh, ya?
Pegang kamera jauh lebih keren daripada pegang laptop, pegang laptop untuk ngedit jauh lebih keren daripada untuk membuka Microsoft Word.
Benarkah?
Menulis hanyalah perihal ide, hasil pengambilan gambarlah yang menjadi landasan utama suatu karya dapat digemari.
Oh, bagaimana ini?
Lalu--
Stop!
Benar begitu?
Tidak salah.
Hah?
.
Hai, selamat malam! Selamat siang! Selamat pagi! Dan selamat! Jika kamu berpikir bahwa apa yang gue tulis di sini (kali ini) benar-benar tidak penting bagi kelanjutan hidup manusia, kebutuhan finansial, hutang Negara, hingga perubahan rancangan Undang-Undang Dasar (jika ada). Tulisan gue semacam kemubaziran daya listrik bagi planet kita, Bumi. Semakin banyak gue ngebacot di sini, semakin banyak gue ngecharge daya baterai media penulisan ini.
Tidak ada yang salah, semua hal selalu nampak benar dari sudut pandang yang benar.
Maka jika di awal tadi, banyak contoh hal yang menjurus pada memojokan karya di bidang kepenulisan. Itu tidak ada salahnya. Atau lebih tepat, kebenaran yang tertunda tidak berlaku di sana. Kebenaran selalu hadir dengan cepat, tentu saja dari orang atau orang-orang yang menganggapnya benar. Kita nggak bisa ajak seluruh warga Galaksi Bima Sakti untuk membenarkan bahwa kata "Benar" digunakan untuk mendukung sesuatu sebagai sesuatu yang tidak bisa disalahkan. Tapi sebagai orang Indonesia, kata "Benar" telah benar digunakan untuk membenarkan suatu opini apa saja.
Gimana? Dapet?
Itu aja tulisan gue kali ini, kalau mau lanjut, baca paragraf di bawah ini.
Oke, lanjut. Sebagai manusia yang mencintai teknologi, namun lebih mencintai keyboard dan keypad daripada lensa tele, gue sedikit terguncang tatkala membaca stories caption seorang teman (yang diunggah hanya sebentar) yang berkata bahwa penyampaian komunikasi visual 60.000 kali lebih cepat daripada tulisan.
Kaget.
Tapi hanya sebentar, karena mudah dia segera menghapusnya entah karena apa. Gue banyak bersyukur seandainya dia merasa bersalah, opini tersebut memang sepertinya datang dari orang yang terkenal, maka jelas banyak orang yang setuju. Lalu saya berpikir ulang, pengupdate ulang kalimat tersebut sebaiknya tidak perlu merasa bersalah. Lebih baik malu.
Karena dia menyampaikan hal tersebut melalui tulisan, tak tahukah betapa cepat dia memahami kalimat tersebut hingga menyetujuinya dan berani repost? Padahal itu bukan karya visual.
Hehe.
Ya, sebenernya visual, sih. Karena dapat dilihat, tapi maksudku.. ya.. nonverbal. Jadi.. um.. sempat gue berpikir bahwa visualisasi adalah proses penggambaran sesuatu. Nyatanya, secara bahasa, kata "Visualisasi" di Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti pengungkapan gagasan atau perasaan menggunakan bentuk gambar, tulisan (kata dan angka), peta grafik, dan sebagainya. Yang mana dengan kata lain, all you can see.
Ya, tulisan termasuk pada komunikasi visual (dari segi bahasa) yang sering tidak disadari atau bahkan tidak diketahui. Sebab jika diperkecil dari kata "Visualisasi", kata "Visual" juga memiliki arti dapat dilihat dengan indera penglihatan (mata), berdasarkan penglihatan. Pun bisa dilihat, dari bentuk tulisan dan lisan yang jelas kita tahu merupakan dua hal yang berbeda. Tulisan is what you can see, dan lisan adalah what you can hear. Namun nyatanya, pemahaman manusia macam gue gak sejauh itu. Bersyukur bagi kamu-kamu yang baru tahu fakta itu dan menyadarinya setelah baca tulisan gue ini, mungkin di lain ruang kita akan bahas yang ini lebih dalam (dan barangkali ada kesalahan di pemahaman gue ini).
Oke, kembali ke topik pada pembukaan. Maka dari itu, opini (atau pertanyaan?) yang gue taruh di paragraf-paragraf awal tidak perlu kamu-kamu ambil pusing untuk diperdebatkan. Gue cuma mau aja gitu, ngetik gituan, barangkali ada yang setuju, tapi pas baca ke bawah sini jadi gagal acc the letter to your brain (apasi).
Karena segala hal yang berkolaborasi, dengan ataupun tanpa perpaduan, perlu ataupun tidak penyatuan, sesuatu tidak bisa berdiri sendiri. Lagi, sisi itu ada dua. Segala hal, tidak sendirian.
Bye.
Waw daebak ...bikin buku lah cetak sekalian ..bacaanya masuk di otak saia
ReplyDeleteWith Love:KPOID
I know you :)
Delete