Pernikahan di Mata 'Anak Kecil' Seperempat Abad
Selamat pagi, siang, sore, malam. Silakan sesuaikan dengan waktu kalian membaca ini! Semoga selalu dalam genggaman kebahagiaan. Kalau tidak bahagia, jangan salahkan keadaan. Bahagia itu pilihan dan diciptakan, kalau tidak terasa, mungkin upaya penciptaannya belum maksimal.
Salah satu upaya menciptakan kebahagiaan, adalah pernikahan. Highlight pembahasan kali ini adalah pernikahan, pandangan soal nikah, dan keinginan menikah. Masing-masing orang jelas memiliki pandangan yang berbeda-beda, ada yang menikah karena merasa dirinya sudah mapan, ada yang menikah karena merasa usianya sudah cukup dan sudah tidak ada gairah hidup, ada yang menikah karena tuntutan orang tua, ada yang menikah karena sudah bertemu dengan orang yang 'tepat', ada juga yang menikah karena FOMO aja. Bagaimana dengan yang enggak mau? Banyak juga, contohnya saya.
Tapi mungkin bukan enggak mau, cuma belum mau aja. Belum kepikiran bakal ngabisin sisa waktu sama siapa, karena untuk sekarang yang ada di angan cuma cita-cita dan harapan buat diri sendiri, gak kepikiran bahwa hidup harus nambahin karakter lain, kayak.. biar apa?
Kemudian, buat ngabisin sisa waktu yang mana? Waktu kan emang sisaan, setiap hari harus hidup seolah mati esoknya, mimpi dan harapan jadi additional aja. Hingga pikiran bercabang: waktu kan masih banyak, memangnya mau ke mana sampai harus memikirkan planning penghabisan "sisa waktu" yang ada?
Baru-baru ini, pengalaman hidup saya bertambah. Sebagai pembuka terlebih dahulu, siapa yang tahu dengan Aplikasi Kencan/Dating App? Di era sekarang, Dating App marak diciptakan dan digunakan untuk mempermudah manusia sibuk dan malas -dalam mencari pasangan. Atau juga yang kesulitan, seperti saya. Merasa tidak pernah disukai lawan jenis, saya mencari pasangan menggunakan jalur jejaring sosial, tapi mari kita fokus bicarakan ini pada chapter yang berbeda. Singkat cerita, akhirnya saya mendapatkan pacar!
Tidak bisa dielak, setiap bertemu orang baru di Aplikasi Kencan, yang ada di pikiran saya adalah berpacaran dengannya, walau ego tinggi menjawab "Gabut aja" kerap kali ditanya kamu cari apa sih di sini? Sehingga, mendapatkan pacar akhirnya cuma kalau ada yang mau aja, tidak pakai filter atau pertanyaan pada diri sendiri sudah cukup suka atau belum, ketertarikan di awal yang bahkan diselingi perasaan bosan jadi pacuan untuk bersama siapa saja yang ingin bersama saya. Pemikiran jelek.
Saya berpacaran dengan seseorang, kondisi jarak jauh, hingga menginjak pada pemikiran menikah, di benaknya. Menurut saya, puncaknya ada pada saat di mana saya bilang ingin lanjut pendidikan S2, dia mulai geram dan marah, menjadi-jadi pada kondisi saya yang banyak sekali hang out ke sana dan ke mari. Pertengkaran jadinya itu-itu saja, pergi sedikit kena ambek, dibilang saya tidak akan bisa fokus padanya jika kebanyakan bersenang-senang dan bermimpi. Tapi dia bilang juga support, apanya?
Ternyata, pernikahan bagi dia adalah jalan keluar bagi masalahnya. Usianya genap sepertiga abad, tinggal sendirian dan fokus bekerja membuatnya jadi ingin punya tempat untuk pulang. 1001 pemikiran menghantui benak saya tentang kestabilan finansial dia dan saya yang belum bisa dibilang nyaman, juga tentang jarak yang mengharuskan saya ikut ke wilayah dia tinggal, tentang tempramen buruknya yang sering mengganggu saya, dan yang paling utama -Tahun Depan-.
Di tahun kami berpacaran, dia bilang ingin menikah pada tahun yang akan datang. Maka dari itu kemarahannya karena ingin saya ikut fokus menabung untuk menikah, saya bilang, saya bisa tetap bersenang-senang dan menabung bersamaan, langkah saya memang pelan tapi masih banyak yang ingin perempuan seperempat abad ini capai dan lakukan. Dia marah, karena menurutnya dia berada di fase sudah tidak bergairah, mengurangi lingkar pertemanan untuk hanya fokus pada saya dan pernikahan, dia ingin saya melakukan hal serupa. Awalnya saya tersanjung, namun seiring dibahas, ternyata ini bukan soal kami.
Yang dia inginkan adalah pernikahan, bukan menikah dengan saya.
Dia termasuk pada kategori orang yang ingin menikah karena usia dan gairah hidup yang sudah habis, bahkan tidak keberatan menikah dengan siapa saja asal itu dalam waktu dekat, plus mau memulai segalanya dari 0 karena dia sadar belum punya apa-apa. Dia ingin memikirkan, mengupayakan, dan mencapai masa depan yang dia rencanakan dalam satu ketukan waktu. Woah, saya jadi berpikir, kalau seperti itu lalu apa yang saya dapat? Memuaskan egonya? Menikah dengan dia, ikut ke tempat tinggalnya, menabung untuk masa depan 'bersama', semua yang dia mau terpenuhi. Keinginan saya bagaimana?
Jika saya meminta dia untuk menunggu, saya utarakan 3-4 tahun lagi bisa jadi jaminan, yang mana saya masih ingin nonton konser K-Pop Idol kesukaan saya, pergi main setiap akhir pekan dengan teman-teman yang tersisa, membeli hal-hal menarik untuk kesenangan semata, ternyata dia tidak bersedia.
Entah tidak bersedia menunggu atau tidak bersedia melihat saya bersenang-senang tanpa dia, namun yang pasti, dia keberatan pada saya yang menikmati dunia saya sendiri. Dia bilang, bersenang-senangnya bisa nanti saat sudah bersama. Tuturnya juga, jika nanti kami menunggu 3-4 tahun lagi, tidak menutup kemungkinan bagi saya untuk memilih pria lain. Tapi maksud saya, dalam kondisi di mana dia siap menikah dengan siapa saja walau bukan saya, bisa-bisanya dia percaya diri membuat tudingan seperti itu? Ditambah lagi, pernikahan tidak ada dalam pemikiran saya sebab ketidak percaya dirian, maksud saya kalau tidak ada rencana menikah dengan dia, maka saya tidak punya rencana menikah dengan siapapun, tau!
Perbedaan usia kami 6 tahun, ternyata walau tidak begitu jauh, tapi fasenya yang membuat kami terpaut jauh. Usia seperempat abad adalah usia di mana segalanya terasa menyenangkan sekaligus membingungkan, sedangkan usia sepertiga abad sudah tidak mau memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Awalnya, bagi saya usia itu cuma angka. Ternyata saya salah, semua kembali pada kepribadian masing-masing mau seberapapun usianya. (Saat membaca ulang, saya merasa ambigu. Benar, usia cuma angka, semua tergantung pada masing-masing kepribadian orang. Usia berapapun, jika punya mimpi ya harusnya dicapai. Bukan malah ambil jalan pintas yang tidak semua orang senang akan itu).
Kesadaran bertambah dan teringat saat usia saya masih di awal 20-an, menyukai seseorang yang terpaut usia 12 tahun dari saya, membuat saya berpikir "Diajak nikah tahun depan juga ayok", ah, indahnya masa-masa belum punya pikiran. Tapi mungkin juga, karena memang semua tergantung orangnya.
Keraguan dan keyakinan bukan terjadi tanpa alasan. Mengingat pacar saya ini (mantan), beberapa kali dia mengajak kami berpisah saat sedang bertengkar, tapi saya mempertahankan dengan satu alasan kepada diri sendiri: jika tidak dengan dia, maka sepertinya tidak ada lagi yang mau padaku. Ya, lagi-lagi pemikiran jelek.
Ternyata, sepertinya yang salah bukan cuma fase usia. Tapi juga soal kecocokan, bagaimana dia dan saya yang memiliki visi dan misi yang berbeda, juga tidak memahami satu sama lain.
Kami belum terlalu saling kenal.
Berkenalan secara online, berpacaran secara virtual, pertemuan yang tidak banyak, bahkan saya ragu kami benar-benar tahu tabiat masing-masing. Ya, saya berpacaran dengan dia hanya karena dialah satu-satunya yang mau dengan saya. Tentang perasaan saya sendiri, saya tidak tanya. Benar, saya hanya akan memenuhi egonya.
Bagi saya, kenal satu sama lain itu sangat penting. Komunikasi sangat utama, karena hal itu yang jadi landasan inti dalam menyatukan dua kepala. Sayangnya, saya terlalu ceroboh dari awal, hanya fokus pada keinginan saya untuk mendapatkan atensi, tidak memikirkan bagaimana orang lain akan menanggapi ini. Ternyata, pacaran itu punya tujuan. Saya tidak bisa menyalahkan lawan main saya yang terburu-buru, sebab saya sendiri yang serta merta masuk pada cerita hidupnya (juga tanpa pertimbangan). Ketika berjalan saya tidak mampu, maka bukan salah semesta.
Setelah dipikir lagi, dari dulu juga saya sudah sendirian, maka untuk apa menaruh khawatir pada masa depan tanpa seseorang?
Meminta dia untuk menunggu saya juga mungkin bisa dibilang egois, namun landasan pemikiran saya bergejolak, bukankah cukup dengan fokus 'menabung' bersama sembari saling kenal satu sama lain dan mempersiapkan segalanya? Itu sudah bisa dilakukan, lalu kenapa harus ditambah dengan amarah setiap kali saya bersenang-senang? Dengan pemikirannya yang bersikukuh saya tidak fokus padanya. Apakah itu pendapat pribadi, atau dia hanya iri?
Lalu sampai tulisan ini selesai dikirim, kami belum berakhir. Aku bukan tipikal orang yang senang mengakhiri hubungan, dan kali ini dia diam bertahan, entah karena masih sayang, atau karena memang masa depannya belum kelihatan. Dia masih mempertahankanku, dan aku tidak tahu pada apa yang harus ku lakukan.
Rain Summer, 20230830
Halo, 20230901. Aku berhasil mengakhiri chapter ini.
Comments
Post a Comment