Tugasmu Di Dunia Ini Banyak, Tahu!


Selamat malam. Selamat siang, selamat pagi, dan selamat sore, sesuaikan dengan waktu kamu membaca tulisan ini.

Siapa sangka kalau bulan depan akhirnya saya berusia 21? Hore.
Ah, tapi saya sendiri pun seperti masih nggak nyangka, rasanya baru kemarin saya wisuda SMA bahkan sebelum berulang tahun yang ke-17.

Di hidup kalian bagaimana? Waktu berjalan juga ‘kan?
Mungkin bagi sebagian dari kalian yang membaca ini, ada yang usianya sama dengan saya, atau seenggaknya sama-sama berada di tahun ke-4 perkuliahan mungkin? Ya, pokoknya di masa usia kita ini (atau nggak kita kalau kamu belum kepala dua, atau lebih), terlebih bagi yang masih melajang, usia 20an awal adalah masa-masanya kita dituntut untuk berpikir keras. Pilihan tuh seperti harus ditentukan mau gak mau dalam waktu dekat, ya, proses emang masih berlanjut, tapi semacam naik level.

Kalau hidup diumpamakan sebagai video game, usia 20an awal itu kayak naik tier dan masuk level kutukan. Dilaluinya pasti sesulit itu, sedramatis itu, dan butuh ekstra segalanya.

Ekstra sabar, ngedapetinnya gak secepat dan semudah itu. Ekstra hati-hati, apapun yang perlu dipilih untuk diperjuangkan, didapatkan, atau dilakukan, butuh sekali dipikirkan matang-matang, karena semuanya mencakup nyaris selamanya. Contohnya saja pekerjaan, mau atau enggak di masa depan kita berganti jenis mata pencaharian setelah hari ini menetukan atau mendapatkannya, tapi pengalaman yang kita dapat hari ini bakal sangat  berguna dan menentukan kemampuan kita setelahnya.

Atau pada konteks lain, pernikahan. Ewh, agak geli, tapi harus! Siap gak siap, entah karena tuntutan orang tua ataupun diri sendiri, sekalipun keadilan semesta, manusia pasti dihadapkan dengan yang namanya kisah cinta.


Mempersiapkan percintaan itu sebenarnya nggak perlu berlebihan, agaknya menjalani hidup dengan lebih baik hari demi hari juga bisa menjadi metode persiapan menyambut jodoh. Katanya, perbaikan diri itu perlu, kesiapan finansial wajib, dan bekal pengetahuan tentu saja. Semua itu mencakup pada proses kita mencapai kedewasaan, kan? Ya, memang dewasa bukan soal jumlah usia. Tapi yang namanya dewasa perlu pemikiran yang matang, pengalaman yang banyak, dan mental yang siap sampai nggak sadar tahu-tahu sudah bijak. Dan semua itu bisa dilalui dengan waktu, semakin umur bertambah, dengan menjalani hidup tanpa sia-sia, maka kita akan menjadi dewasa yang menyenangkan. Mempersiapkan diri untuk menyambut jodoh bisa dilakukan bersama dengan itu, atau kalau saya sih, nggak perlu spesial-spesial amat.

Namun seringkali kedewasaan seseorang dijadikan tolak ukur dalam sebuah keputusan. Atau bisa diralat, jumlah usia seseorang. Mentang-mentang orang tua, menentukan jodoh anak seenaknya, pikirnya sih itu yang terbaik, padahal manusia kan punya kualifikasi sendiri untuk tiap-tiap hal yang ingin dimiliki. Atau misalnya kakak kandung, apapun yang dia putuskan dan egosentris bisa jadi pemenang karena anak baru 20an hanyalah seonggok newbie, padahal menjadi dewasa ‘kan juga punya banyak cabang yang bukan hanya perkara baik atau buruk, tapi juga karakter, yang tentu saja banyak dan gak bisa dibahas satu per satu di sini, apalagi kalau harus memberikan sterotype. Nggak deh, ya, pasti akan sangat melelahkan ngetiknya, bisa-bisa saya curahkan seluruh kekesalan yang pernah mampir. Intinya, karakter orang dewasa yang banyak macamnya itu, di antaranya ada yang semenyebalkan itu bagi kaum-kaum baru naik level macam saya. Ya pokoknya kamu paham deh, bagaimana rasa tertekannya padahal kita bukan papan ketik.


Tapi tentu saja, nggak aneh lagi kalau apapun yang kita persiapkan -entah matang atau medium (wow), sekalipun rencana dan segala prospek yang kita persiapkan, atau bahkan sudah lakukan, biasanya dikasih kejutan sama semesta yang secara tiba-tiba ikut campur. Yaa, walau memang bisa dibilang wajar sih, karena ‘kan dia yang punya kawasan. Dan justru yang menjadi perantara itu beragam, bisa rencana manusia lain yang terlibat pada kehidupan kita, ataupun orang asing, pokoknya siapa saja bisa. Dunia punya banyak sekali pemeran di dalamnya. Itu benar-benar nggak ngenak kalau sadar bahwa hidup berdampingan di bumi bikin kita nggak bisa sepenuhnya please selfing, istilah buat apa ya itu, pokoknya kita nggak bisa egois.

Contohnya saja, kita (saya) yang sudah punya rencana (misal) lulus magister pada bulan Mei tahun ini, sangat yakin bahwa penelitian lapangan dan penyusunan hasil dapat dilakukan 3 bulan sebelumnya bersama seluruh koreksi-koreksi yang pasti dosen pembimbing berikan. Namun apa ini, realita-sama? Tiba-tiba saja aktivitas dunia dihentikan karena adanya virus menular yang mematikan. Sebenarnya nggak begitu mematikan, ya pokoknya sebahaya itu. Dan semua rencana dari semua manusia pada akhirnya harus gagal, aktivitas luar ruangan dihentikan artinya perjalanan hidup yang banyak sudah direncanakan harus diganti rencananya. Semua itu memang salah virus, tapi bukan salah ia sepenuhnya kalau nggak ada manusia yang menyebarkan itu. Intinya, keterlibatan manusia satu sama lain dalam hidup, agaknya memang yang menjadi pengaruh besar bagi tiap-tiap hal yang menimpa manusia satu sama lain. Yang belum saya bahas, semua itu kehendak Tuhan.

Pasrah.


Itu jalan keluar atau bukan? Berserah diri gitu, karena sudah nggak tau harus melakukan kelanjutan yang seperti apa. Seringkali kita dihadapkan sama keadaan yang membuat kita bimbang mau lanjut atau udahan. Tapi kalau lanjut ya harus cari cara baru, dan belum ketemu, sedang kalau udahan ya harus siap merelakan sesuatu, yang belum tentu bisa kita dapatkan lagi, belum lagi memikirkan rasa ikhlas yang harus sepenuhnya diberikan ketika mengingat proses yang sudah sangat panjang. Benar-benar, kan? Pilihan ‘tuh sebegitu merepotkannya. Padahal kalau kata Mbak Najwa Shihab, kenapa harus memilih? (semoga kamu tahu betul kelanjutan kalimatnya seperti apa).

Tapi bagi saya, sih. Udahan itu bukan pilihan. Ya semacam kita melakukan perjalanan dengan kendaraan umum, berhenti di stasiun, bandara, halte, atau terminal tertentu untuk melanjutkan perjalanan menuju rumah –tempat yang memang menjadi tujuan. 
Jadi, ada baiknya kita hanya akan berhenti melangkan –sebatas sejenak saja, nggak untuk berhenti berproses dalam kehidupan dunia yang kata orang sih, fana ini. Rumah memang tujuan, tapi setelah itu masih ada hal lain yang perlu kita lakukan, bernafas, memasak, mandi, dan lain-lainnya. Bukan hanya melakukan perjalanan ‘kan, yang menjadi aktivitas kita sebagai penghuni bumi?


Pokoknya, jangan berhenti, itu saja. Sudah ah, sudah ya, saya mau nulis hal lain. Kamu juga loh 'ya, lanjutkan! Tugasmu di dunia banyak, tau.

Comments

Popular Posts