ANGAN PERCINTAAN (beberapa) KAUM SYARIAH

Dini hari tiba-tiba kepikiran tentang seorang cowok soleh yang punya komitmenan seorang cewek solehah, keduanya enggan disebut pacaran, tapi punya tanggal kebersamaan, dan sering menghabiskan waktu berduaan.

Gak perlu pakai nama samaran, salah satu contoh di atas cuma pembukaan aja biar barangkali kamu punya teman dengan kasus yang sama, atau bahkan kamu tersinggung, aku enggan minta maaf, aku minta maaf untuk yang ini: punten, aku enggan minta maaf.

Kamu pernah mengalami atau mendengar istilah komitmen, dipakai untuk mengikat seseorang? Katakanlah pemantap suatu hubungan, diambil dari budaya ta'aruf yang berubah menjadi hubungan bertahun-tahun bersama temu, menjadi sebuah istilah baru berupa "Komitmen" itu. Gak mau disebut pacaran, sebab katanya pacaran itu perbuatan setan. Tapi aku nggak tahu apa yang mereka katakan untuk kegiatan mereka yang berduaan, mungkin punya sebutan lain seumpama "Silaturrahim". Lalu untuk tanggal kebersamaan? Pos-think aja, mungkin itu tanggal pertemuan pertama. Atau tanggal peresmian hubungan komitmen? Sangat terstruktur, rupanya.

Aku enggak akan menyalahkan kegiatan "Komitmen" hijrahwan dan hijrahwati yang selalu terdepan menyampaikan dakwah itu, tapi kalau sedikit kaget aku rasa wajar saja. Sebab seperti yang kita tahu, pakaian tertutup mereka adalah kewajiban, sedangkan berduaannya adalah kelakuan. Tidak bisa dipungkiri, kelakuan di luar kewajiban tidak selalu menjadi sebuah kesalahan. Ibaratnya ada yang sunnah, sudah total melakukan kewajiban juga bisa bersanding dengan perilaku di luarnya yang entah baik entah fasik.

Selain mereka yang punya komitmenan, beberapa hijrahwati penganut status Jomblo Fii Sabilillah juga tak jarang yang berangan-angan segera halal agar bisa lari-larian di taman sambil berpegang tangan. Disemangati mengerjakan skripsi, disuruh masak nasi, hingga menyentuh mani tak dipungkiri pasti masuk ke otak mereka tanpa dituangkan dalam curhatan media sosial. Ditambah lagi, marak muda-mudi influenzer yang banyak pamer kemesraan lepas haram, maksudnya, sudah halal. Makin-makin saja membuat para JoJoBa (Jomblo-Jomblo sok' Bahagia) baper minta dikhitbah sama pemuda yang sudah lama dikhitan dan mapan.

Meski begitu, aku memang nggak bisa menilai seseorang hanya dari postingannya di media sosial. Seumpama si pelaku komitmen yang sering pamer kegiatan romansanya itu, atau si JoJoBa yang sering repost video kata-kata pakai backsound lagu Deen Salaam itu. Aku bisa menebak jalan pikiran mereka dari apa yang mereka tunjukan, tapi aku tidak bisa mengetahui maksud sesungguhnya tanpa ia berterus terang, sebab kebohongan itu nyata keberadaannya. Fake smile, bohong untuk kebaikan, malu untuk buka-bukaan, jaga image, gambar.

Lalu aku mulai paham, mengapa sebegitu ekspresifnya mereka (wanita, sungguh sedari tadi yang ku bicarakan adalah kaum hawa) di media sosial. Sedih update, senang update, cuek update, aib disimpan rapih, tapi yang dipamerkannya bisa membuat beberapa insan memandang sebagai "Apasibgsd". Lalu ketika dighibah, muncul postingan kata-kata bijak pendorong untuk tidak usah mendengarkan cibiran, begitu ditampar musibah, bilangnya itu cobaan, barang tau sebenarnya itu teguran.

Sahabat (eanjaaaii).. Mari bersama-sama kita hidup dengan kemasing-masingan yang saling memedulikan. Kita menebar informasi kebaikan tentu saja tidak perlu disandingkan dengan contoh dari diri kita sebagai pelaku penyebar, tapi tentu saja lebih baik jika kita terlebih dahulu yang melaksanakan sebelum menginformasikannya kepada khalayak luar. Kita melakukan keburukan tentu saja tidak perlu dipertontonkan, tapi tentu saja lebih baik jika kita tidak perlu melakukannya kala sudah tahu itu adalah kesalahan.

Semoga kita semua menjadi umat yang mampu melakukan yang semestinya ketika kita tahu jalan yang sebaik-baiknya. Sebab katanya, hal tersulit dari belajar agama bukanlah memahami teorinya, tapi menerapkannya.

Bye!

Comments

Popular Posts