SUICIDE IS RIGHT??? (Bahasa)
Selamat malam, selamat pagi, selamat hari apa saja, selamat kalau kamu udah punya tujuan hidup walau masih dalam tahap menuju target.
Basa-basi nggak penting bikin orang males buat melanjutkan percakapan ke jenjang yang lebih intim, walau begitu, biasanya basa-basi nggak penting jugalah yang bikin sepasang -atau lebih- umat bisa saling menyeru seru untuk berbincang lebih dalam lagi. Jauh-jauh mencari pembahasan yang cocok, berjuang, atau nggak sengaja. Semua obrolan punya jalannya masing-masing.
Dalam percakapan satu arah kali ini, gue berharap segelintir dari golongan manusia baik yang senang membaca hal apapun bisa bersedia membuat komunikasi ini jadi dua arah. Kolom komentar ada di bawah, barangkali mau berbincang, ya. Tapi kalau mau yang lebih private, surel atau DM juga bisa kamu andalkan melalui akun twitter @grameida.
Setelah atau sebelum itu, baru deh gue mau nanya..
Kamu pernah gak sih, kepikiran buat bunuh diri?
Beberapa orang, banyak, mungkin. Pasti pernah terpikir untuk mengakhiri masa hidupnya pas lagi ketemu sama moment yang bikin kepala serasa pengen pindah lokasi ke Kroasia. Barangkali Koraaing lebih baik, tapi belum tentu. Jadi, semacam udah gak kuat menghadapi kenyataan yang paitnya ngalahin kopi arabika (tapi barangkali kamu tau jenis kopi yang lebih pahit, bisa kamu ibaratkan sendiri).
Beberapa kasus gue temukan pada beberapa orang kenalan di dunia nyata, yang pernah ada pada fase pengen membuat jantung berhenti beroperasi. Lebih dari satu sample, yang pernah mengalami masa tinggal di pondok pesantren modern, tak mengalami masa ABG yang indah.
Sebenarnya, bukan karena pola hidup di pesantren kurang baik, atau mari pukul rata dengan menyebut istilah lain, asrama. Tinggal di tempat semacam asrama, tentu lebih menantang ketimbang kamu dilepas sendirian di Kota rantau 'tuk tinggal di kos-kosan. Beberapa anak kurang beruntung, akan mendapatkan perlakuan yang tak searah dengan kepribadiannya. Berbagi kamar saja sudah menjadi hal yang tidak mudah, apalagi berbagi kehidupan yang mana satu sama lain memiliki kegiatan dan jadwal yang sama lebih dari 24 jam. Lebih dari 24 jam memiliki maksud, bukan cuma hari itu doang.
Singkat cerita, lebih dari satu sample (yang tidak saling mengenal) ini sempat berniat mengakhiri hidupnya dengan meminum obat melewati batas yang semestinya, lalu mereka melakukannya. Mencari cara untuk over dosis, namun yang didapati para sample gue hanyalah mulut berbusa dan kesadaran yang hilang sebentar. Lepas itu, sehat lagi. Gak tau harus ketawa apa kasihan, gak tau harus bilang miris karena hidupnya yang menyedihkan di asrama atau karena kegagalannya untuk suicide. Suicide failed mode: ON. Brain: "Anjinglah!"
Contoh berikutnya, ada metode iseng. Gue nggak tau sih apa yang dituju oleh para sampleQ kalo yang satu ini, sebab dari yang gue lihat dan pahami, yang mereka lakukan tak lebih dari kegoblokan.
Putus cinta adalah hal biasa, udah jadi bahan bernafas sehari-hari manusia-manusia di bumi. Yang udah ataupun belum terikat cincin pernikahan, semuanya sama aja. Dan lagi-lagi lebih dari satu manusia yang pernah gue temui, menyayat pergelangan tangannya lepas diputusin sama pacar masing-masing.
.
.
Aku kesel sumpah!!!!!!!!
KENAPA!?
Maksudnya, kenapa mau bunuh diri cuma karena diputusin pacar?
Oke, tapi gue merasa, gue salah.
Sebuah pelajaran dari webtoon berjudul "The Secret of Angel" (episode berapa gue lupa) membuat gue sadar, bahwa kesakitan-hati dan kemampuan-hati-dalam-menerima-kesakitan pada diri masing-masing manusia, jelas berbeda-beda. Maka kita gak ada hak untuk saling menghakimi terkait luka yang didapat orang lain hingga membuat kita jengah dan marah-marah kala mereka menanggapinya dengan kesedihan yang mendalam, gores-goresin tangan pake piso, perih iya, mati kaga.
Atau bahkan, yang sukses itu sendiri (seperti si member idol group Shinee, kalau kalian tahu, itu sebagai contoh) untuk bunuh diri, gue nggak bisa menggerutu nyuruh dia bangun lagi cuma buat ngomong "LEBAY LO!" di depan mukanya. Sekali lagi, kemampuan hati orang berbeda-beda. Yang menggoblokannya adalah cara menyikapi, orang yang mencoba bunuh diri dikarenakan masalah-masalah (apapun) adalah orang yang sudah terlalu menyerah. Mereka gak menghargai salah satu karya band D'Masiv yang cukup digandrungi itu, iya itu yang itu. Mereka menyerah, menerima kalah, lalu bagi yang gagal, mereka cukup hidup dengan menanggung malu (terkhusus yang menyayat tangan cuma karena ditinggal pacar tapi gagal mati).
Contoh pada kasus sayat tangan, gue ambil dua. Yang pertama, 3 kali putus cinta dengan 2 objek membuat dia memiliki 3 bekas sayatan di pergelangan tangan kirinya. Tidak sekaligus, dan ia pernah memamerkannya ke gue. Apa yang gue pikirkan saat itu (kelas 1 SMA)?
"Eh, bangsat.. kan udah putus, ngapa si. Tolol bat, gak punya malu sama diri sendiri, pantesan mandinya telanjang. Kaga ada malu, sih!!!" Dalam hati, namun hanya berujar "Haha, goblok." Di dunia nyata.
Yang kedua, dia nulis nama lengkap cowok yang mutusin dia itu di pergelangan tangan kirinya (lagi-lagi, mungkin disebabkan oleh tangan mereka yang tidak kidal, berkarya alangkah mudahnya dilakukan dengan tangan yang biasa dipakai menulis dan menampar) menggunakan bagian runcing pada jarum pentul, lalu mengunggahnya ke media sosial Facebook.
Ya.
Cukup.
Jangan kesal, aku udah cukup.
Akutu.. aku.. kala itu cuma membaca postingannya. FYI kalau tidak salah, itu tahun 2016. 2016. 2016. 2016. Hehe
Captionnya "Saking cinta matinya."
☺
.
Pesan dari gue, seburuk apapun keadaan yang lagi lo alamin sekarang. Gue lebih seneng kalo lo melampiaskannya pada sebuah karya yang gak merugikan diri lo sendiri kecuali rasa malu. Rasa malu yang seperti apa? Kebanyakan manusia (termasuk gue) gak berani buat yang namanya show up kemampuan semacam nulis ini aja aing mikirnya lama buat upload. Ehehe, iya. Aku menganggap menulis adalah kemampuan aku, walau aku tahu semua orang bisa menulis. Punten♂️
Jadi kalo misalnya lo suka menggambar, ya lo gambarkan keresahan lo itu. Lo suka nulis, lakukanlah seperti gue namun tentunya yang lebih baik dan bermanfaat. Lo suka apapun, sangkut pautkan kekesalah, kelelahan, keresahan, dan kemarahan lo pada apa yang lo pikir mampu untuk buat, dan bisa menjadi hal positif. Benar, terinspirasi gak harus lewat inspirator, motivasi gak harus didapet dari motivator, tapi jadikanlah diri lo sebagai penyemangat buat lo bangkit lagi. Atau kalo enggak, seenggaknya gak usah merugikan diri sendiri. Bunuh diri itu tindakan yang merugikan diri sendiri, di samping dosa dan tidak tahu tolol.
Daripada bunuh diri, alangkah lebih baiknya kamu ke rumah sakit, terus bagi-bagiin organ tubuh ke orang-orang yang membutuhkan. [Kasus selesai, kalo masih goblok, hubungi malaikat maut.]
.
And.. Gubyee!
Comments
Post a Comment