MANUSIA PUNYA ALASAN//IKTIKAD HIDUP SENDIRI

Alasan.

Setiap orang dijamin punya alasan, apapun alasan dia untuk melakukan hal apa saja, itu terserah dia, itu hidupnya.

Gue pribadi masih mencari-cari, apa alasan gue untuk tetap bertahan dan melanjutkan hidup di Indonesia? Otak gue selalu berseru, tidak ada!

Hingga tak sampai di situ, perencanaan untuk minggat ke luar Negeri emang nggak gampang, bahkan cenderung terlihat seperti hanya angan pribadi gue aja, keyakinan dari dalam diri berseru itu hanya sebatas hayalan fiksi otak pribadi. Gak akan tercapai, pada akhirnya gue pasti tetap stuck di Indonesia, menikah mungkin? Bisa jadi dijodohkan, sebab masih sama terkait nggak percaya diri dengan konteks pernikahan, itu bukan hanya wacana ataupun topik angan-angan.

Tapi nggak percaya diri bukan berarti sama sekali nggak mau. Siapa juga yang berangan-angan hidup dan mati tanpa pasangan? Pasti ada, sih. Tapi untuk gue pribadi, di luar ketidak percaya dirian, tentu gue juga punya keinginan menikmati hidup bersama seseorang.

Lalu keduanya berkaitan, keinginan untuk pergi dari Negara ini akan kalah apabila ada suatu alasan kenapa gue harus bertahan. Sebagai contoh, kalo ada seseorang yang menjadi alasan, baru gue tinggal. Atau mungkin pekerjaan? Kalo itu cuma tuntutan gaji, kayaknya belum mampu menjamin pendirian gue berubah haluan, deh.

Gue pribadi anaknya sering nggak jujur ke orang-orang, cerita separo, nggak mengakui entah pada orang lain maupun diri sendiri, dan banyak lagi. Beda dengan keadaan yang seperti ini, saat mengetik, biasanya segala hal aib apapun pasti gue umbar. Semacam 2 paragraf di atas ini, gue beranggapan bahwa itu aib. Tapi mungkin juga enggak, karena belum tentu ada yang baca. I'm happy, sedikit. Tapi bisa lebih bahagia ketika tulisan gue dibaca orang.

Lalu gue ada satu bocoran, sebenarnya.. di usia 19 tahun ini. Terlalu banyak hal yang terjadi, sekaligus terlalu banyak waktu yang terbuang. Gue seperti kehilangan pendirian, gue telah menemukan puncak kesepian, gue telah dihadapkan dengan realita hidup sendirian, bahwasannya tempat yang seharusnya gue pakai untuk kembali, malah cenderung semakin gue lupakan, gue malah terlalu berharap pada manusia. Namun dalam jangka waktu yang lama nggak ada satu manusiapun, bahkan cenderung otak gue lebih terbuka terkait pertanyaan dari orang lain yang paling gue benci: Lo gak punya temen, ya?

Seperti benar, tapi gue merasa semua orang adalah teman gue, tapi rasanya gue terlalu lebih sering bersama diri sendiri. Namun yakin saja, gue gak sendiri sendirian.

Aduh. Udah, ah. Nanti melow.

Comments

Popular Posts