3 Komponen Dalam Diri Manusia

Sesuatu yang harus diselesaikan (dipecahkan), singkatnya disebut dengan kata ‘Masalah’. Terlalu banyak permasalahan di muka bumi ini, saya jadi bingung kenapa orang-orang bisa hidup di tengah update-an media sosialnya yang sering bilang lagi banyak masalah, aku harus kuat! Terus gak sampe 5 menit dihapus lagi, yang penting udah ada yang baca, tapi nggak pengen dibaca orang, tapi ngode juga, tapi doi lama bacanya ah keburu banyak yang liat. Rasanya pengen sekali saya kasih saran agar orang yang seperti itu mengindahkan kehadiran ruang obrolan, ada personal chat so why you still want to tell someone with your insta or whatsapp stories!? Lalu diserang jawaban “Gengsi.”

Sejatinya, kok saya bisa tau yang seperti itu? Sebab saya juga begitu, didukung teori crew Meja Gunjing-nya Space melalui mulut Allan Wangsa yang menyampaikan opini tersebut lantas di yo’i-kan oleh bintang tamunya. Ternyata, aku ndak sendirian. Saya cuma bingung aja kenapa komunikasi bisa begitu hebatnya, padahal dulu alasan saya bergabung di jurusan ini bukan karena itu. Mungkin kapan-kapan saya bakal cerita kebodohan hidup ini.

Sekarang balik lagi ke permasalahan terkait masalah hidup manusia, yang beragam, yang rame, yang beda-beda, dan saling membesar-besarkan. Lalu disebar luaskan, ternyata alasannya juga beragam. Ada yang emang maunya cerita ke temen media sosial, ada juga yang pengen pamer aja, biar lo pada tau apa yang gue rasa! Gitu. Lalu saya mensyukuri nikmat globalisasi, komunikasi jadi ragam begini, macem-macem sampai tiada hari tanpa informasi. Mulai dari informasi keadaan hati anak kelas, sampe orang paling terkenal se-negara, sekarang semuanya sama. Cuma beda dari segi komunikator dan komunikan. Kalo info terkait keadaan hati anak kelas, taunya dari stories hasil buatan dia sendiri dan diketahui hanya oleh orang yang nge-save nomor dia plus nggak di-hide. Kalau orang famous, informasi datang dari orang lain dengan komunikan yang sangat luas, ampe yang nggak kenal dia pun jadi tau dia ketika suatu insiden terjadi. The power of media, wartawan sialan, warganet bang*kuang.

Lalu marak, YouTube creator sekarang beramai-ramai mengisi channel dengan bacotan, ngambil keuntungan dari Adsence pake metode pengembangan topik yang lagi hangat entah pake jalur ceramah, cemooh, sampe lelucon. Biar terkenal terus dapet duit yang memang nyatanya gampang. Tapi, seorang kawan pernah bilang bahwa orang pinter bakal kalah sama orang rajin. Saya rasa sih benar, sebab influencer-infulenzha itu hanyalah manusia-manusia yang rajin mengejar finansial dan ketenaran. Gak bisa dipungkiri bahwa nggak ada manusia yang gak suka uang, dan gak ada orang kaya yang gak suka pamor. Tapi saya anaknya nggak doyan memukul rata, jadi baiklah mungkin masih ada golongan-golongan lain, dan gak semua orang bisa digolong-golongkan.

Lalu saya bertanya sama diri sendiri, kenapa kok saya nggak bisa jadi orang rajin? Tapi saya juga nggak pinter atau mungkin nggak pinter-pinter amat, toh memang saya juga nggak ngerasa bodoh-bodoh amat. Semacam selalu punya ide tapi bingung bagaimana merealisasikannya, dan ternyata lebih dari bingung dalam memulai, taunya saya emang malas aja, gitu. Jaman sekarang kan media banyak, temen banyak, udah nggak ada alasan kenapa gak bisa memulainya. Terus menerus cuma dipanas-panasin sama penyair yang ngompor biar saya maju, tahunya saya hanya membara pada saat saya mendengar atau membaca kalimat bijaknya, lepas beberapa dikali 60 menit, semangat saya langsung mati. Hati saya jadi semacam tim PLN  yang sering seenak jidat mainin listrik, mainin semangat orang. Sial.

Itulah kenapa saya memisahkan diri ini ke dalam 3 komponen, 1 hati, 2 otak, 3 raga. Kerja sama mereka cenderung buruk, makanya saya sering menanggung kesal akibat ketiganya yang sulit untuk satu laras. Sebagai contoh, kemarin otak saya berpikir untuk menerima tawaran collab suatu project dengan seorang kawan, tapi hati saya ragu karena katanya merasa nggak setingkat, jadi takut gak bisa menyamakan tingkat kemampuan dengan si kawan. Padahal, raga sudah semangat dan siap berbuat, taunya otak malah ikut terkontaminasi pikiran buruk akibat hati yang kelewat hati-hati. Saya mau gabungkan-pun ketiganya agak sulit juga, hati saya egois, soalnya. Terus otak saya, pikiran, dia agak bipolar saya rasa, soalnya suka berubah-ubah dan nyesel kemudian. Raga sih enjoy, lemah pun dia masih bisa dikuasai permainan sugesti. Pusing-pusing, dah.

Namun bila mengingat terkait rajin dan pintar, nyatanya ada lagi satu penunjang kesuksesan. Lucky. Biasanya sih cowok yang begini, soalnya dia lucky (baca: laki :)). Keberuntungan nyata berada di atas segalanya, walau banyak yang bilang nggak ada yang kebetulan di dunia ini, tapi emang hal itu gak ada urusannya sama keberuntungan.

Untung-untungan semacam pembatas paling jahat, bukan lagi pembeda, dia berkuasa di atas segalanya hingga mampu menggaet ribuan rasa iri dan dengki. Kecerdasan bisa dicari, semangat  bisa diusahakan, tapi no no  dengan keberuntungan. Beliau berdiri sendiri dan datang tanpa aba-aba, semacam pihak-pihakan, kategori satu ini emang agaknya pilih-pilih. Tapi juga sering nggak disadari, mungkin. Sebab orang yang mendapatkan peruntungan belum tentu berpikir dirinya beruntung, sedangkan orang yang terus-terusan gagal, bisa paham betul apa itu definisi kurang beruntung. Macam saya.

Saya macam yang mana? Kurang kesadaran.

Bukan berarti saya nggak tahu diri, tapi mungkin juga akibat kebanyakan duduk, makanya gak tahu diri. Tapi serius deh, iya gak sih ada manusia yang sering berpikir bahwa usaha kerasnya sulit mencapai target, sedangkan orang lain yang  berjuang sedikit (kelihatannya, dan emang sepertinya iya), itu tuh jadi semacam dia beruntung terus sampe rajin ketemuan sama sukses. Sukses dalam hal menggaet satu target ya, bukan cita-cita kamu! (Saya ingin sukses dan membanggakan kedua orang tua, padahal hidup itu proses yang gak akan kasih kepuasan, sukses itu bisa datang secara berkala bukanlah satu ketukan dan bertahan selamanya. Lalu lupa, orang tua sudah bangga tapi kamu tidak peduli, atau orang tua kamu nyatanya B aja. Macam saya, lagi-lagi.) Ba-dum-tes!

Maka dari itu, masalah memang dapat ditemui di mana saja. Tapi usahakan agar 3 komponen dalam diri kita bisa kompak menyikapinya dengan satu tujuan bersama, bukan saling mengedepankan kemauan pribadi dan alhasil melukai salah satunya. So bijak bat ye.

Bye!

Comments

Popular Posts